Gravitasi dan Tulang, di luar angkasa

Gravitasi dan Tulang :Apa jadinya kalo kita tinggal di planet lain?

Planet-planet yang ada pada system tata surya kita terdiri dari planet-planet  yang massanya berbeda-beda, dari Pluto yang massa nya Cuma 1/500 dari massa bumi, sampe Jupiter yang massanya 317 kali lebih berat dari bumi. Akibatnya, gaya gravitasi di permukaan dari masing-masing planet tersebut berbeda-beda juga. Kamu bakal memiliki berat bedan sedikit lebih kecil di Pluto, tapi beberapa kali lebih besar di Jupiter.

Pada manusia, tulang pada kerangka tubuhnya men- support berat badan kita. Tulang bukanlah material yang kaku(rigid) seperti beton/semen, melainkan fleksibel dalam merespon keadaan di sekitarnya. Tulang secara terus-menerus membangun kembali(rebuild) dirinya sendiri, mengganti mineral yang kaya calcium yang membentuk struktur tulang yang solid ini. Kita dapat membayangkan aktivitas yang berlangsung pada tulang dengan menganalogikannya dengan pemodelan ulang sebuah rumah. Pertama, material yang telah tua dibuang(proses yang dinamakan resorption), kemudian material baru ditambahkan. Jika terdapat tulang yang terpengaruh oleh tegangan(stress) yang tidak biasa, sebagai response terhadap keadaan ini,  tulang itu akan secara perlahan-lahan menambah massanya ataupun menguranginya.

Pada permukaan Bulan,misalnya, berat tubuh kita hanya sebesar  1/6 berat badan kita di bumi. Tulang-tulang kita akan mulai menyesuaikan strukturnya sebagai akibat dari gaya gravitasi yang lebih kecil, kecuali kita dapat menjaga agar mereka tetap dalam tekanan yang semestinya, dengan cara-cara tertentu(misalnya olahraga teratur). Astronot yang telah menghabiskan sekitar beberapa minggu atau bulan di luar angkasa, telah mengalami bone loss yang signifikan, untungnya keadaan ini dapat ter-cover setelah mereka kembali ke bumi. Scientist tidak begitu yakin tentang bagaimana long-term effects dari low gravity terhadap tulang kita. Apa yang akan terjadi pada tulang kita dalam perjalanan panjang  dengan luar angkasa menuju Mars, misalnya?

Keadaan di luar angkasa juga mempengaruhi system cardiovascular tubuh kita. Di bumi, karena gravitasi, darah secara alami mengalir ke kaki, dan untuk mensupply darah ke otak, jantung harus memompanya melawan gravitasi. Namun demikian, karena gaya gravitasi yang sangat kecil di luar angkasa, darah justru mengalir cepat ke tubuh dan kepala. Dalam kasus ini, apa yang dialami astronot dinamakan “puffy face syndrome”. Pembuluh vena di leher dan muka nampak lebih keluar, dan mata nampak merah dan membengkak

Kalo di luar angkasa, olahraga-nya apa?

Astronot dapat menggunakan treadmill dan sepeda stasioner( itu lo, sepeda yang biasa dipakai ngeboes-boes) untuk melatih otot tubuh bagian atas dan bawah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s